BERGERAK DAN BERGERAK

Artikel Serial Ramadhan (28)

Posted on: Oktober 10, 2007


MENJADI HAMBA RABBANI, BUKAN HAMBA RAMADHANI

Setiap bulan Ramadhan datang, ada perubahan besar pada beberapa orang.Dengan semangat, mereka melakukan ibadah-ibadah wajib dan sunah dengantingkat intensitas yang jauh berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Namunsayang, setelah Ramadhan berlalu dan usai, maka berlalu pula dan usaipulalah intensitas ibadah yang selama Ramadhan mereka lakukan.
Pendekatan cara beribadah seperti ini tentu sangat keliru dan tidak benar.Sebab, hanya menjadikan Ramadhan sebagai tumpuan utama beribadah dan denganmenyepelekan bulan-bulan lain. Maka, sama artinya bahwa kita melakukanibadah yang hanya bersifat musiman. Kita menjadi hamba musiman dan bukanhamba yang selalu istiqamah dan lurus di jalan Allah.
Padahal, tujuan puasa yang sebenarnya adalah sebagaimana yang Allahfirmankan,
“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan berpuasa kepadamusebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang datang sebelum kamu agarkamu bertakwa (Al-Baqarah: 183).
Yakni, membidani lahirnya ketakwaan kita kepada Allah secaraberkesinambungan dan kontinyu. Oleh karena itulah, Allah menggunakan katatattaquun dalam bentuk fi’il mudhari’ yang berarti untuk saat ini dan yangakan datang.
Artinya adalah bahwa dengan puasa, seseorang akan mampu melakukaninternalisasi ketakwaan ini dalam darah dagingnya, sehingga dia memilikikepekaan rabbani yang terus menerus, tanpa mengenal waktu, kondisi, danruang. Ketakwaaan yang sebenarnya bukan hanya ada dan harus terasa di bulanRamadhan, namun juga hendaknya terus bergulir di luar bulan suci, sebagaibuah dari latihan-latihan yang melelahkan di bulan Ramadhan ini.
Sebab, ketakwaan tidak memiliki batas ruang dan zaman tertentu. Dia harusterus mengalir deras kapan dan dimana saja dia berada. Bagi manusia takwa,dirinya akan senantiasa berada dalam aura rabbani yang menggelegak-gelegakuntuk melakukan kebaikan dan kebajikan, untuk menjauhi larangan dan maksiatkepada Allah.
Dalam hari-harinya, akan terasa nuansa rabbaniyah yang menggerakkan dirinyauntuk senantiasa dekat dengan Allah, merapat ke sisi-Nya, mendekat kehadirat-Nya. Mata hatinya memiliki “radar” furqan yang sangat gampangmembedakan antara yang benar dan yang salah, antara yang batil dan yang hak,antara cahaya Tuhan dan kegelapan syetan.
Nuraninya memiliki sensitivitas tinggi dalam memilah antara kebaikan dankejahatan. Hamba rabbani akan senantiasa berada dalam koridor-koridor lurusTuhannya dan akan senantiasa menjauhi jerat-jerat syetan.
Namun sekali lagi, aktivitas itu harus senenantiasa berlangsung tanpa hentidan jeda. Gelombang ketakwaan itu harus terus bergolak dan berhembus di luarbulan Ramadhan.
Suatu kali dikatakan kepada Imam Bisyr, bahwa ada sekelompok manusia yanghanya bersungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan dan dia dimintapendapatnya mengenai orang yang memiliki sikap beribadah seperti itu. Diamenjawab, “Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengetahui hak Allahkecuali pada bulan Ramadhan. Sesungguhnya orang shaleh akan senantiasabersungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun.”
Jawaban ini mengisyaratkan bahwa seorang hamba rabbani, yakni hamba yangselalu dekat dengan nilai-nilai ketuhanan, amal-amalnya akan senantiasabertaburan bak gemintang, kapan saja dan bulan apa saja. Keterikatan kitabukan pada bulan itu, namun keterikatan kita senantasa berupa ketaatankepada Allah.
Hamba rabbani akan menggetarkan dinding-dinding malam dengan dzikirnya,kapan saja dan dimana saja. Hamba rabbani akan menggetarkan atap-atap langitdengan tasbih dan tahmidnya kapan saja dan dimana saja.
Hamba rabbani akan menggelar “konser” tahlil di mesjid-mesjid, dimushala-mushala, di kereta-kereta, di mobil-mobil dan dimana saja diaberada. Bibirnya senantiasa basah dengan berdzikir kepada Allah, kalbunyapenuh dengan cahaya Allah. Hamba rabbani terus berjalan di atas shiratalmustaqim.
Hamba rabbani memiliki mata anti maksiat, telinga anti desas-desus, mulutanti fitnah dan adu domba. Hatinya sebening mutiara dan pikirannya secerahbintang kartika.
Tak heran jika hamba-hamba rabbani ini akan menjadi suluh dan secercahcahaya yang akan memberikan penerangan terhadap manusia-manusia lain. Bukanhanya di bulan Ramadhan saja, namun di setiap detakan waktu, di setiaptarikan nafas, di setiap langkah kaki. Dia menjadi musuh utama hambasyaitani, manusia-manusia yang mengabdi pada kehendak syetan dan hawanafsunya.
Di bulan Ramadhan ini, kesempatan untuk melatih diri menjadi hamba rabbanibetul-betul terbuka lebar. Karena, bulan ini mengandung berbagaikeistimewaan. Bulan ini bulan paling mulia diantara sebelas bulan lainnya,bulan yang di dalamnya rahmat dicurahkan, ampunan ditawarkan dengan gencar,pembebasan dari api neraka dibuka lebar-lebar. Bulan yang di dalamnyatangan-tangan syetan dibelenggu, pintu Rayyan dibuka menganga.
Bulan yang sedekah di dalamnya jauh lebih baik dari pada sedekah di bulanlainnya, pahal-pahala amal dilipat tanpa diketahui jumlah lipatannya. Bulandimana umrah yang dilakukan pada bulan ini setara dengan ibadah haji dibulan lain, atau dalam hadits lain disebutkan laksana melakukan haji bersamaRasulullah.
Bulan yang di dalamnya doa-doa tidak tertolak saat dipanjatkan pada saatberbuka. Bulan yang di dalamnya Al-Qur’an untuk pertama kalinya diturunkandari Lauh Mahfuzh ke langit dunia. Bulan yang menjadi tameng pelakunya dariapi neraka, laksana tameng mereka pada saat perang.
Bulan ini akan menjadi uji coba pertama siapa diantara kita yang mampumerengkuh semua pahala di bulan suci untuk kita jadikan bekal menjadi hambarabbani di masa-masa mendatang. Bekal ketakwaan, bekal kesabaran, tahan uji,kepekaan sosial, kearifan ucapan dan lainnya. Kelulusan kita di bulan inisangat menentukan apakah kita mampu menjadi hamba rabbani atau kita gagalmencapainya.
Maka, tidak ada cara lain bagi kita selain mengokohkan “otot” ketakwaan kitakepada Allah di bulan suci ini, agar kita tidak menjadi ‘abdun ramadhani,hamba yang hanya takwa, sabar dan tawakkal di bulan Ramadhan. Hamba yanghanya tahu hak dan kewajibannya di bulan Ramadhan, hamba yang hanyamenyucikan telinga, mata, mulut, dan lisannya di bulan Ramadhan semata.
Kita berharap, bahwa puasa tahun ini akan mencetak kita menjadi hambarabbani dan bukan hamba ramadhani. Fakun ‘abdan Rabbaniyan wala Takun ‘AbdanRamadhaniyan. Semoga. Amien.
Sumber:30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci
Penulis:Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MASamson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MAA. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT
Source: IKADI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Puffy

sunset at the sea

Mount Fuji at Dawn

Lebih Banyak Foto
Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Komentar Terbaru

novianto di CAPRES PRO UN
Kreatif Web di Guru Makin Sejahtera Animo Jad…
Siwa di GAJI GURU PNS
Anonymous di GAJI GURU PNS
yd.i di GAJI GURU PNS

Blog Stats

  • 40,157 hits
%d blogger menyukai ini: