BERGERAK DAN BERGERAK

Artikel Serial Ramadhan (20)

Posted on: Oktober 4, 2007


MELATIH ANAK PUASA SEJAK DINI

1. Melatih Anak Shaum Sejak Dini
Shaum di bulan Ramadhan bagi anak-anak belum baligh bukanlah suatu kewajiban. Ulama salaf, seperti Ibnu Sirin dan Az-Zuhri memandangnya sebagai sunnah. Imam Syafi’i berpendapat, anak-anak – bila orang tua mereka telah memandang memiliki kondisi dan kemampuan yang memadai – perlu dan penting sejak dini diperintahkan melaksanakan shaum, tetapi bukan sebagai kewajiban syar’i bagi anak melainkan sebagai pelajaran (baca: latihan dan pembiasaan). (Al-Katani: Mu’jamu Fiqh as-Salafi: 52).
Pendidikan anak sejak dini merupakan salah satu central issue yang yang mendapat perhatian besar dalam Islam. Pendidikan adalah satu-satunya pintu membentuk generasi bangsa yang memiliki karakter salimul aqidah (aqidah yang bersih), shahihul i’badah (ibadah yang benar), matinul khuluq (akhlak yang kokoh), mutsaqaful fikri (wawasan berfikir yang luas), qawiyul jismi (jasmani yang sehat dan kuat) dan nafi’un lighairihi (bermanfaat bagi orang lain). Meminjam pernyataan M. Natsir (Kapita Selekta) yang mengatakan, “Maju Mundurnya sebuah bangsa sangat tergantung dari pendidikan yang diselenggarakan bangsa itu”.
Al-Qur’an, dalam banyak ayat, memerintahkan para orangtua untuk sejak dini mendidik anak-anaknya:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata pada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”. (Luqman: 13)
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari mengerjakan perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu, termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai”. (Luqman: 19).
Demikian juga halnya dengan pelatihan dan pembiasaan shaum bagi anak-anak. Rasulullah SAW, seperti diriwayatkan Rabi’ binti Muawwidz ra., pada suatu pagi di hari Asy-Syura, beliau menulis surat kepada penduduk dusun di sekitar kota Madinah, yang dihuni kaum Anshar:
“Barang siapa yang pagi-pagi dalam keadaan berpuasa hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Barang siapa pagi-pagi sudah dalam keadaan berbuka, hendaklah selebihnya ia sempurnakan. (Kemudian kaum Anshar ): “Setelah itu kami selalu berpuasa pada hari asy-Syura dan menyuruh anak-anak kecil kami untuk ikut berpuasa. Kami pergi ke masjid. Kami buatkan mereka mainan dari bulu. Apabila ada diantara mereka yang menangis karena minta makanan, kami berikan mainan tersebut kepadanya, hingga hal itu berlangsung sampai waktunya berbuka”. (HR Bukhari dan Muslim).
Pada masa khalifah Umar bin Khattab, anak-anak sudah lazim melaksanakan puasa. Kesimpulan yang dapat kita cuplik dari hadits yang menceritakan Umar marah besar kepada orang yang mabuk di bulan Ramadhan, “Celaka kau, sedangkan anak-anak kecil kami saja menunaikan puasa”. (Bukhari, Bab Shaum as-Shibyan, 29-30)
Sungguh benar, shaum (ataupun ibadah-ibadah lainnya) belum menjadi suatu kewajiban syariah bagi anak-anak, karena mereka belum berstatus mukallaf. Tetapi, berdasar nash-nash Al-Qur’an dan hadits, merupakan kewajiban syariah kepada setiap orang tua untuk mendidik, melatih, dan membiasakan mereka sejak dini untuk melakukan shaum (dan ibadah-ibadah lainnya) sesuai dengan kemampuan mereka, sebagai upaya persiapan bagi mereka bila saatnya tiba dimana ibadah itu telah wajib mereka tunaikan, maka tidak ada suatu beban ataupun keberatan lagi pada mereka apalagi adanya penolakan.
2. Melatih Berpuasa Sesuai Dengan Kemampuan dan Kondisi Anak
Pada masa kini, tumbuh suatu anggapan bahwa tindakan para orang tua kaum muslimin memerintahkan anak berpuasa merupakan tindakan kekerasan orang tua pada anak. Suatu anggapan yang tidak memiliki dasar pengetahuan apa pun. Karena, pertama: melatih anak berpuasa tidak sama dengan mewajibkan mereka berpuasa. Rasulullah saw. menegaskan: “Tidak ada kewajiban syar’i bagi anak-anak yang belum baligh”. Kedua, dalam melatih anak berpuasa, harus mempertimbangkan kondisi dan kemampuan anak. Al-Qur’an menegaskan: “Allah swt. tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (Al-Baqarah: 286).
Dua prinsip di atas sangat gamblang mengimplikasikan bahwa tidak boleh ada unsur paksaan dan kekerasan dalam mendidik anak. Akan tetapi justru sebaliknya, harus memperhatikan kondisi dan kemampuan anak serta mengupayakan cara-cara memotivasi dan membuat mereka gembira saat mereka latihan berpuasa.
Para ulama mengkaji soal kondisi dan kemampuan anak melakukan latihan shaum. Usia anak dapat dijadikan indikator dari kondisi dan kemampuan anak. Ilmu Psikologi Perkembangan misalnya, telah dapat mengindentifikasi perkembangan kemampuan fisik dan mental anak pada umumnya dalam fase-fase usia tertentu.
Menjawab kapan atau pada usia berapa anak sudah dapat dianggap mampu dilatih menunaikan shaum?. Berikut sekilas penjelasan para ulama yang penulis komentari dari sisi psikologi dan sedikit contoh teknis penerapannya.
Imam Syafi’i, bersandar pada hadits Rasulullah yang memerintahkan para orang tua untuk menyuruh anak-anak mereka melaksanakan shalat pada usia 7 tahun dan memukul mereka karena meninggalkan shalat saat usia mereka menginjak sepuluh tahun. Karena, anak dalam batas usia 7 tahun sampai dengan sepuluh tahun sudah dapat dilatih melaksanakan shaum.
Sedangkan Ishaq membatasi sampai dengan usia 12 tahun. Imam Ahmad membatasi pada usia 10 tahun. Batasan usia itu sesungguhnya merupakan patokan dasar bagi para orang tua menilai kondisi dan kemampuan anak untuk melaksanakan suatu kewajiban. (Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah Li Al-Thifli, 194)
Meski secara fisik dan psikologis, lazimnya anak pada usia 6 – 10 tahun ia dipandang telah memiliki kesiapan yang memadai untuk melakukan shaum, tetapi orang tua mesti pula menilai kondisi dan kemampuannya saat itu. Imam Auza’i memberi panduan: “Jika ia (anak-anak) mampu menunaikan puasa pada tiga hari pertama secara berturut-turut dan tidak merasa lemas, maka perintahkanlah untuk berpuasa selanjutnya”.
Dengan demikian, dapat saja orang tua membagi tahapan puasa menurut kondisi dan kemampuan anak. Misal, puasa dari mulai saat shubuh sampai dengan waktu Zhuhur, kemudian dilanjutkan atau ditingkatkan sampai dengan waktu Ashar. Baru kemudian meningkat sampai tahap sempurna, berpuasa dari mulai waktu shubuh sampai dengan maghrib.
Meski anak memiliki kondisi dan kemampuan yang cukup prima untuk melaksanakan shaum, tetapi motivasi dari orang tua sangat diperlukan agar kekuatan dan kemauannya menunaikan puasa itu tetap terjaga. Seperti yang dilukiskan kaum Anshar di Madinah saat puasa Asyura’, para orang tua mengajak anak-anak mereka ke masjid, membuatkan mainan untuk mereka dan mengajak mereka bermain bersama.
Hemat penulis, ini merupakan sebuah cara memotivasi anak dan mengalihkan atau menjauhkan perhatian anak pada segala sesuatu yang mengingatkan ia pada rasa lapar, seperti kegiatan memasak yang dilakuan ibunya di rumah dan aroma masakan yang dapat mengundang rasa lapar anak. Juga merupakan cara menciptakan kendala bagi anak untuk tidak dengan mudah ia mengambil makanan dari dalam rumah.
Dengan bersandar dari riwayat di atas, maka cara-cara lain yang dianjurkan kepada para orang tua untuk memotivasi anaknya mau berpuasa, antara lain adalah menyiapkan kata-kata pujian yang menunjukkan orang tua merasa bangga memiliki anak yang meski masih kecil mampu melaksanakan puasa seperti layaknya orang dewasa. Memberitahu mereka bahwa Allah swt. dan Rasulullah sangat menyenangi anak-anak kecil yang melakukan ibadah puasa. Memberikan hadiah mainan yang mendidik dan dapat melenakan ia dari keinginannya untuk berbuka. Tentu saja masih banyak variasi dari cara-cara ini.
3. Tips Kegiatan Anak di Bulan Ramadhan
Dengan bersandar pada sunnah Rasulullah saat menyambut maupun aktivitas beliau di bulan Ramadhan, dapat direfleksikan ke dalam kegiatan anak di bulan Ramadhan, sebabagai berikut:
1. Mengadakan kegiatan kolosal anak-anak di lingkungan tempat tinggal atau wilayah yang lebih luas, seperti pembudayaan membersihkan dan menghias rumah dan lingkungan dalam rangka menyambut bulan Ramadhan dan festival pawai menyambut Ramadhan. Aktivitas ini dimaksudkan untuk memberikan rasa kegembiraan kepada anak dengan tibanya bulan Ramadhan.
2. Membudayakan kegiatan saling meminta dan memberi maaf di antara anak-anak baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti melalui surat, telepon, sms, e-mail dengan kata dan ilustrasi gambar yang indah atau lucu. Kegiatan ini merupakan salah satu cara agar anak memiliki kecerdasan emosi dan sosial dalam pergaulannya.
3. Mengadakan ifthar jama’i (buka puasa bersama) baik dalam keluarga mapun lingkungan yang lebih besar seperti di masjid atau di sekolah. Kegiatan ini akan menjadi sebuah kesempatan yang dapat menggembirakan anak-anak dalam melaksanakan puasa dan mempererat persahabatan antar mereka.
4. Menghidupkan sunnah-sunnah Rasul di bulan Ramadhan dalam keluarga atau di sekolah dan masjid, seperti: melaksanakan shalat tarawih, membaca qur’an, shalat dhuha, memberi shadaqah dan sebagainya yang dapat dimodifikasi dengan selingan, misalnya pembacaan cerita atau permainan lainnya. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkenalkan sunnah-sunnah Rasul di bulan Ramadhan kepada anak-anak dengan cara yang menggembirakan.
5. Melibatkan anak-anak dalam kepanitiaan penerimaan dan penyaluran zakat, infaq dan shadaqah. Insya Allah melalui kegiatan ini anak-anak terlatih kepekaan sosialnya dan mengembangkan potensi kepemimpinannya.
6. Mengadakan aneka perlombaan dalam berbagai bidang, seperti: lomba puasa, tahsin dan tahfizh al-Qur’an, lomba berdo’a, lomba busana muslimah, lomba melukis yang berkaitan dengan suasana Ramadhan, lomba kaligrafi, lomba melantunkan nasyid, cerpen atau puisi-puisi religius, dan lain-lain. Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin kental dalam jiwa anak bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang menyenangkan dan bulan yang memberi mereka pengalaman yang banyak dalam mengembangkan potensi dan kemampuan mereka.
7. Mengikutsertakan anak-anak dalam aktivitas i’tikaf yang dikelola khusus untuk anak-anak agar tidak mengganggu kegiatan i’tikaf orang tua mereka. Insya Allah kegiatan ini akan semakin melekatkan jiwa mereka pada masjid.
Tentu para orang tua akan tidak pernah kehabisan cara dalam memotivasi anak agar mau melaksanakan latihan puasa dengan cara-cara yang menggembirakan dalam berbagai bentuk kegiatan.
4. Manfaat Shaum Bagi Anak
Banyak manfaat yang dapat dipetik dari latihan puasa bagi anak, antara lain:
1. Anak mempraktikkan dengan pengalaman langsung bahwa ia akan selalu merasa diperhatikan oleh Allah swt. Dengan demikian, ia akan berusaha berlaku jujur dan ikhlash dalam berkata, bersikap dan melakukan apa pun. Sesungguhnya, pendidikan yang paling efektif adalah dengan mengalami secara langsung.
2. Anak terlatih sabar dalam mengendalikan potensi emosinya. Jiwa anak yang lebih mengedepankan emosinya dan belum mampu berfikir kedepan, terutama saat menghendaki sesuatu atau konflik dengan teman, akan teredam melalui shaum.
3. Anak terlatih dalam kemampuan mengendalikan segala keinginannya. Shaum melatih anak tidak bersikap konsumerisme, menjauh dari pandangan materialistik, apalagi perilaku hedonis.
4. Melatih anak memiliki pandangan ke depan dan sikap pejuang. Salah satu ukuran anak memiliki kecerdasan emosi yang tinggi adalah kemampuan ia menunda kenikmatan sementara untuk mencapai kenikmatan jangka panjang. Daniel Goleman, pencetus teori kecerdasan emosi mempopulerkan marshmallow test.
Dari hasil tes itu ditemukan bahwa anak yang mampu menunda menyantap marsmallow dengan menunggu beberapa saat sang peneliti kembali ke ruangan, agar mereka mendapat marsmallow lebih banyak daripada mereka yang menyantap langsung, ternyata sampai dengan SMU anak-anak ini memiliki prestasi 200 poin lebih tinggi dari teman-temannya yang menyambar langsung marsmallownya.
5. Mendidik anak mensyukuri nikmat Allah swt. melalui berbagai aktivitas ibadah vertikal dan sosial.
Tentu saja, para pembaca dapat menambahkan lagi sejumlah manfaat lain yang berimplikasi pada peningkatan potensi dan kemampuan anak sesuai dengan kajian atau disiplin ilmu masing-masing, seperti dari sisi kesehatan, pendidikan dan lain-lain. Wallahu’alamu bish-showab.
Sumber: 30 Tadabbur Ramadhan, MENJADI HAMBA ROBBANI, Meraih Keberkahan Bulan Suci
Penulis: Dr. Achmad Satori Ismail, Dr. M. Idris Abdul Shomad, MA Samson Rahman, Tajuddin, MA, H. Harjani Hefni, MA A. Kusyairi Suhail, MA, Drs. Ahlul Irfan, MM, Dr. Jamal Muhammad, Sp.THT
Source: IKADI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Iceland

Fog Over Polychrome

Frosty fence

Lebih Banyak Foto
Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Komentar Terbaru

novianto di CAPRES PRO UN
Kreatif Web di Guru Makin Sejahtera Animo Jad…
Siwa di GAJI GURU PNS
Anonymous di GAJI GURU PNS
yd.i di GAJI GURU PNS

Blog Stats

  • 40,132 hits
%d blogger menyukai ini: