BERGERAK DAN BERGERAK

Taujih Ketua Dewan Syariah PKS Menyambut Ramadhan 1428

Posted on: September 17, 2007


Kalau tamu itu datang dan kita kurang persiapan yang selevel dengan kemuliaan dari tamu itu, maka apa yang akan terjadi, kita akan dipermalukan oleh Allah SWT.

PK-Sejahtera Online: Ada beberapa hal yang istimewa sehubungan dengan penyelenggaraan Tarhib Ramadhan pada tahun ini, khususnya untuk kita para kader dakwah di DKI Jakarta. Keistimewaan pertama bahwa posisi Tarhib Ramadhan pada tahun ini berada dalam rangkaian “kemenangan” Pilkada di DKI Jakarta. Kemenangan ini menjadi modal untuk memastikan diraihnya kemenangan di bulan Ramadhan, karena kita tidak ingin kalah dengan datangnya bulan suci Ramadhan.

Keistimewaan kedua bahwa tarhib ini juga diadakan setelah diselenggarakannya Rapimnas. Rapimnas ini untuk memperkokoh sarat-sarat kemenangan yang ditegaskan dalam dua kata kunci yaitu pemantapan kapasitas kepemimpinan dan pelayanan.

Kapasitas kepemimpinan yang kita pahami adalah kapasitas keteladanan. Kemudian Keteladanan ini didukung dengan kepasatitas pelayanan kepada seluruh warga masyarakat.
Keistimewaan lainnya adalah bahwa kapasitas sebagai para muwajih untuk lingkungan dan masyarakat kita. Jadi posisi kita dobel, Sebagi muwajih tentu saja kesungguhan kita di dalam menyongsong dan menyambutnya harus lebih kuat, lebih bermakna, lebih berkualitas dari tarhib-tarhib yang diadakan muslim lainnya. Dan tentu saja persiapan kita untuk meraih kemenangan Ramadhan harus lebis serius.

Sebagai muwajjih, harus ada yang spesial dalam menyambut Ramadhan. Kalau tamu itu datang dan kita kurang persiapan yang selevel dengan kemuliaan dari tamu itu, maka apa yang akan terjadi, kita akan dipermalukan oleh Allah SWT. Allah mengirimkan tamunya yang mulia, tetapi kita tidak menyambutnya secara selayaknya. Mungkin rasa malu itu tidak kita rasakan di dunia, tetapi pasti akan kita rasakan di akhirat.

Kalau kita benar-benar ingin benar-benar berhasil dalam Ramadhan, pastilah kita benar-benar akan melakukan persiapan-persiapan yang semestinya. Ini kita kiatkan dengan kita akan menyambut bulan agung Ramadhan. Kalau sungguh-sungguh keinginan dan niat kita itu, niscaya kita mempersiapkan diri pada tingkat individu, keluarga dan pada tingkat komunitas kita.

Ada dua pola sekaligus dua posisi ketika kita menunaikan ibadah. Pola dan posisi pertama adalah kita melakukan ibadah termasuk shiyam, qiyam, Al-Qur’an dalam posisi orang yang memang sadar dan menjalankan kewajiban. Artinya kita menjalankan amaliah Ramadhan itu karena kewajiban.

Kalau pola ini, paling tingkatannya orang melaksanakan kewajiban itu standar saja. Tetapi pola yang dicontohkan Rosulullah adalah pola ibadah orang-orang yang bersyukur atas karunia Allah.

Pola Romadhan yang akan kita laksanakan adalah pola puasa dan ibadahnya orang-orang yang bersyukur. Jadi kita dalam menjalani ibadah nanti keutamaan ibadah itu yang harus kita sempurnakan.

Sholat jamaah kita selalu dilakukan di awal waktu, dan diupayakan dilakukan di masjid. Kalau ada syarat sahnya ibadah, maka orang yang beribadah karena rasa syukur tidak saja memperhatikan syarat-sayarat sah tetapi dia akan melaksanakan syarat-syarat kesempurnaan.

Begitu pula dalam membaca Alqur’an, bila ibadah kita adalah ibadah orang-orang yang bersyukur, maka kita akan merasakan kehangatan bersama Al-Qur’an dan kita tidak menghitung-hitung lagi setengah juz atau satu juz. Selama kita memiliki kesempatan membaca Al-Qur’an maka kita akan terus membacanya.

Kalaulah puasa itu ada pengaruhnya pada penampilan fisik, mulut menjadi kering, maka biarlah mulut menjadi kering karena menahan lapar dan dahaga, tetapi marilah kita basahi dengan dzikir kepada Allah SWT. Karena disebutkan dalam sebuah hadist bahwa diantara orang-orang yang akan mendapat karunia Allah, adalah orang-orang yang selalu membasahi dirinya dengan dzikrullah. Ini peluang dalam Ramadhan. Marilah kita pastikan, kita pun tidak mau ketinggalan, tidak mau kurang seratus kali beristigfar setiap hari selama bulan suci Ramadhan.

Kalau kita berinfaq, bersadaqah, tidak lagi kita hitung. Sebab orang yang bersyukur, adalah dasarnya kita serahkan hitung-hitungan pahalanya kepada Allah. Kita hanya menjalankan saja. Kita serahkan kepada Allah untuk memberikan imbalannya sesuai dengan kerahiman Allah SWT bukan keadilannya. Sebab kalau Allah memberikan imbalan sesuai dengan keadilannya, akan banyak ibadah kita yang tidak layak untuk diberi imbalan, karena Allah tahu betul disitu ada ria, rusak keikhlasan kita, ada kekurangsempurnaan, tetapi kita berharap kerahiman Allah SWT.

Dalam kerangka ibadah dan shiyam yang syukur ini, maka arti shiyam yang secara harfiyah adalah al imsyak-menahan, kita harus tingkatkan bahwa bukan hanya semata-mata untuk menahan.

Kita sering melihat tampilan orang-orang yang berpuasa, menahan lapar dan dahaga, menahan tidur dan terlalu banyak, akhirnya dia menahan untuk memperbayak aktifitas. Mengapa? Karena tenaganya kurang, akhirnya ia tampak loyo dan berkurang produktifitasnya. Berangkat ke tempat kerja siang, tapi pulang ingin lebih cepat. Di tempat kerja juga demikian, dari ngantuk, nguap dan seterusnya.

Ini kalau menahan untuk menahan. Puasanya hanya menunggu tibanya waktu Maghrib saja. Ini tidak lebih puasnya orang yang menunggu dan menonton saja. Apalagi bila diperparah dengan menyalahkangunakan hadist nabi, “Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah.” Sehingga dia dari pagi sampai siang hingga sore tidur saja. Toh itu sudah ibadah menurut pemahamannya. Padahal yang dimaksud dengan hadist ini, bukan tidur untuk tidur, tapi tidur sedikit untuk segar lagi, setelah itu bangun untuk tilawatil qur’an, untuk melaksanakan ibadah sehingga produktifitasnya dapat terjaga dan terpelihara.

Jadi kita harus menghindari pemahaman dan aplikasi bahwa shiyam itu menahan dari semua-muanya. Akhirnya kurang aktifitas dan produktifitas. Padahal di bulan Ramadhan ini juga merupakan hari bertemunya dua pasukan muslimin dan kufar. Tentu saja itu suatu prestasi dan produktifitas yang sangat gemilang. Oleh karenanya al imsak dalam makna puasa ini, menahan supaya kita bisa mengoptimalkan amal ibadah dan amal sholeh kita. Sebab al imsak itu dari hal-hal yang membatalkan dan dari hal-hal yang negatif.

Kalau kita melihat dari hal-hal yang merusak puasa, maka kita akan bisa memaksimalkan kekuatan yang positif untuk memenangkan puasa kita setiap hari, memenangkan qiyamulail kita setiap hari, memenangkan tilawatil qur’an kita setiap hari. Jadi kita harus terus menyegarkan pemahaman kita bahwa al imsak adalah menahan dari hal-hal yang negatif, agar kita bisa melecutkan potensi dan meningkatkan energi yang Allah berikan kepada kita untuk berbuat lebih banyak hal-hal yang baik.

Kalau kita melaksanakan shiyam Ramadhan itu karena syukur kepada Allah SWT, maka imsaknya bukan imsak paling dasar. Kita menahan diri dari hal-hal yang membatalkan saja, Bukan hanya itu. Kita harus naik sederajat lebih tinggi lagi, yaitu kita menahan diri dari segala hal yang diharamkan oleh Allah SWT. Sebab disebutkan dalam hadist, banyak orang yang berpuasa, tapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja, karena yang ditahan hanya lapar dan dahaga saja, tapi gagal menahan hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT.

Contoh hal-hal yang diharamkan oleh Allah adalah berburuk sangka terhadap sesama kaum muslimin. Kita wajib menghindari prasangka buruk terhadap sesama kaum muslimin.

Cara untuk menghindari prasangka buruk adalah pertama, pahamilah bahwa apa yang dia lakukan sesungguhnya adalah hal yang baik. Seorang penyair menyebutkan kalau kamu ingin ingin mempertahankan ukhuwah, maka apa yang kamu lihat dari saudaramu itu, pahamilah bahwa apa yang ia lakukan itu baik, mungkin informasinya yang keliru kepada kita. Yang kedua, doakanlah mereka dan mintakanlah maaf untuk mereka. Dalam berpuasa, kita berupaya agar tidak masuk pemikiran yang negatif. Tidak ada ruginya berpikiran positif.

Selain itu, hal-hal yang harus kita hindari adalah perkara subhat. Kita masih ragu apakah ini halal atau haram. Menghindari subhat adalah jalan menuju taqwa. Rosulullah bersabda “Siapa yang menghindari subhat berarti dia telah membersihkan agama dan harga dirinya”. Tidaklah mungkin kita mencapai derajat taqwa kalau agama kita masih kotor. Karenanya diantara derajad taqwa adalah menghindari dari hal-hal yang subhat.

Selain subhat, kita juga harus berupaya menghindari hal-hal yang makruh. Biasanya hal-hal yang makruh adalah dalam menggunakan waktu, misalnya hiburan. Asalnya halal, tapi kalau kebanyakan yang halal, sehingga menggeser tugas dan pekerjaan yang lebih penting, maka yang halal ini berubah menjadi makruh. Demikian juga tidur, asalnya halal tapi kalau terlalu banyak jadi makruh, tilawahnya jadi kurang, bahkan amalan sunat jadi kurang, Padahal yang akan memberikan safaat bagi orang-orang yang berpuasa adalah Al Qur’an.

Inilah makna shiyam yang ingin kita perbaharui. Dengan upaya-upaya tersebut, Insya Allah kita tepat dalam memposisikan diri mencapai derajad taqwa.

Ust. Surahman Hidayat (Ketua Dewan Syariah Pusat PKS)

sumber : keadilan4all@yahoogroups.com
www.Pk-sejahtera.org

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Colors and shadow - Farbe und Schatten (Uli)

The Pearl

Passing through    [Explore 07-12-2016 !!]

Lebih Banyak Foto
September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Komentar Terbaru

novianto di CAPRES PRO UN
Kreatif Web di Guru Makin Sejahtera Animo Jad…
Siwa di GAJI GURU PNS
Anonymous di GAJI GURU PNS
yd.i di GAJI GURU PNS

Blog Stats

  • 40,175 hits
%d blogger menyukai ini: